top of page

BURUH GENDONG, BENTUK NYATA WANITA PERKASA

YOGYAKARTA-Tangguh,tahan banting dan pantang menyerah, kata ini sangatlah tepat untuk menggambarkan sosok kuli panggung pasar atau yang lebih di kenal dengan sebutan buruh gendong. Mereka patut di sebut dengan sosok Kartini masa kini, secara nyata mereka berjuang tanpa bergantung pada orang lain. Di usia yang tak muda lagi, mereka masih mengais rezeki demi menghidupi keluarga. Mereka rela berangkat saat matahari belum terbit dan pulang pada saat matahari terbenam.

​

Semangat para buruh gendong menjadi tiang pondasi yang tertanam dalam jiwa. Salah satu buruh gendong yaitu Saginem mengatakan keterbatasan membuat mereka harus bekerja sebagai kuli panggung pasar walaupun dirasa lelah mengangkat beban puluhan atau bahkan ratusan kilogram.

“Nggih niku ajeng nyambut gawe liane mboten jebul, bakul mboten jebul, nggih namung buruh gendong.”

​

Dalam sekali angkut mereka hanya mendapat upah sebesar dua ribu rupiah, nominal ini sebenarnya tidak sebangding dengan beban yang berat serta resiko yang harus ditanggung. Namun mereka tidak bisa menolak, jika tidak bekerja mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika beruntung dalam sehari mereka mampu mengumpulkan upah sebesar lima puluh ribu rupiah, namun jika pasar tengah sepi dalam sehari mereka hanya mendapat uang dua puluh ribu rupiah.

​

Jika rasa lelah datang sesekali mereka dapat beristirahat namun tidak dapat dibohongi jika nyeri sendi dan pegal-pegal sering melanda tubuhnya usai mengangkat beban barang bawaan. Dari hasil kerja kerasnya mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari untuk makan dan memenuhi kebutuhan lain. Namun seperti yang diceritakan Saginem,  jika ada  kebutuhan lain yang datang , mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak dan harus bekerja lebih keras lagi.

​

“Nek ono kebutuhan werna-werna niku kebutuhan wong ngundang,wong lara, bayen , nggeh sing dikangge nopo nek mboten kasil saking buruh gendong.”

​

Perjuangan para buruh gendong ini sangat luar biasa dalam memperjuangkan hidup. Semangat perjuangan dari para buruh gendong ini, dapat menjadi pelecut semangat bagi para generasi muda agar tidak mudah putus asa.

 

Reporter : Miftah Aulia Anggraini

Copyright @2018 bit.ly/tentangwanitaid

bottom of page