top of page

PEREMPUAN DIFABEL MINIM EDUKASI SEKSUAL

Yogyakarta - Kekerasan seksual pada perempuan difabel masih sering terjadi. Ketidakpahaman tentang seksual dan kesehatan reproduksi disebabkan oleh minimnya edukasi seksual, inilah yang membuat kekerasan pada perempuan difabel masih kerap terjadi hingga saat ini.

Ketua Komite Disabilitas DIY, Setia Adi Purwanta mengatakan bahwa akses dan layanan informasi menjadi satu hal yang sangat penting.

​

“Hak yang sama belum tentu adil, karena remaja difabel belum tentu bisa mengakses layanan dan informasi yang disajikan bagi remaja non difabel. Misalnya informasi bagi tuna netra dan tuna rungu yang memerlukan media huruf braile sebagai bentuk akses informasi. Maka itu akses dan layanan informasi sangatlah penting. Perlu dilakukan pendekatan-pendekatan kepada remaja difabel,” ungkapnya.

 

Remaja difabel terkadang dianggap aseksual bagi sebagian masyarakat, padahal mereka pihak yang rawan menjadi korban. Sering kali mereka terabaikan dalam mendapatkan informasi serta layanan kespro. Terkadang perlindungan agar mereka terhindar dari kekerasan dan pelecehan seksual justru dilakukan dengan cara merumahkan (mengurung dalam rumah).

 

Kepala Sekolah Luar Biasa Bina Anggita, Puji Astuti menegaskan, edukasi seksual harus dilakukan sejak dini.

“Jadi memang edukasi seksual sendiri memang harus dilakukan sejak ia masih kecil, bisa dengan cara melalui media, seperti boneka, yang membedakan kita beri alat kelamin pada boneka tersebut untuk membedakan identitas gender,” ungkapnya.

 

Ia juga menambahkan masalah ini merupakan masalah yang sering terjadi, sehingga seluruh pihak sudah semestinya peduli dengan isu ini, memaksimalkan upaya agar akses layanan kespro bagi remaja difabel menjadi lebih baik.

​

​

​

Reporter : Reny Mardikasari

​

Copyright @2018 bit.ly/tentangwanitaid

bottom of page