top of page

Polarisasi Medsos, Tak Selalu Jahat

Oleh Titi Rochmani

Menjelang tahun politik dimana, akan banyak masyarakat menyambut dengan berbagai aksi, tanggapan ataupun reaksi-reaksi. Tidak hanya didunia nyata namun hal ini menimbulkan polarisasi politik di Media Sosial.

​

Masyarakat Indonesia terbelah seketika menjadi dua belah pihak menuju pilpres 2019. Terbelahnya masyarakat terjadi sementara namun waktunya lumayan panjang, yaitu saat menjelang pemilu saat ini dan usai selesai pemilu nanti. Keadaan itu membuat polarisasi atau kecendurungan perbedaan menjadi kedua kutub atau kubu yang berbeda.

 

Memang Polarisasi Politik di Media Sosial  terjadi  sangat miris karena saling menyerang melalui komentar ataupun perdebatan hingga mengeluarkan lontaran-lontaran kata-kata tidak pantas. Hal itu juga dipicu dengan banyaknya berita dan informasi yang hoax antara kubu satu dengan yang lain.

​

Selain itu para pengguna media social di Indonesia sangat jelas terlihat bagaimana polarisasi politik itu terus berlangsung. Namun dizaman now, para pengguna media atau para pendukung social masing-masing calon membuat “meme” lelucon, video atau gambar kartun kedua capres terlihat ketika para pengguna media social yang membandingkan keduanya disertakan kata-kata yang menyindir dan menjadi viral, tetapi sekarang ini malah menjadi koreksi para capres untuk berbenah diri.

 

Selain itu malah “meme” itu berisikan kritikan, keluh kesah ataupun sebenarnya menguntungkan bagi para capres atau calon pejabat. Terkadang tanpa susah-susah terjun ke masyarakat atau mensurvey tapi sudah tau informasi dan apa yang dibutuhkan. Disini terbukti bahwa polarisasi politik di media social ini sebenarnya masyarakat sadar akan politik.

 

Banyak sekali masyarakat yang masih peduli dengan pesta demokrasi ini, dan peka atas perkembangan atau masalah-masalah yang sedang ada di negara ini. Terbukti juga, tingkat keikutsertaan masyarakat dalam pemilu semakin naik seperti halnya di Pilpres 2014 mencapai 70%.

​

Geoffrey C.Layman dkk, menegaskan bahwa perbedaan kebijakan yang lebih jelas antara kandidat akan memungkinkan warga untuk melihat posisi kandidat atas suatu kebijakan, sehingga mendorong mereka memberi suara berdasarkan kebijakan.

​

Besar harapan bagi para pengguna social mampu memberikan etika yang baik saat bermedia social meskipun dengan kubu atau pendukung lain, tanpa melakukan ujaran-ujaran yang tidak baik. Boleh memberikan kritakan melalui “Meme” namun tetap memperhatikan etika dalam bermedia social.

​

Copyright @2018 bit.ly/tentangwanitaid

bottom of page