top of page

Universitas Asing Masuk: Perbaiki Dulu Yang Sudah Ada

Oleh Reny Mardikasari
Ilustrasi

Isu pemerintah membuka lebar Perguruan Tinggi Asing (PTA) yang akan masuk ke Indonesia menimbulkan pro kontra dari berbagai kalangan khususnya mahasiswa Indonesia. Pasalnya pemerintah pun juga belum memberikan tujuan yang jelas atas masuknya PTA ke Indonesia. Ditambah dengan Jusuf Kalla yang mendukung penuh rencana perizinan kampus asing di Indonesia ini. 

​

Menurut JK, mendatangkan perguruan tinggi asing untuk beroperasi di Indonesia sekaligus sebagai alternatif agar pelajar Indonesia tak lagi ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Selain itu, adanya universitas asing yang beroperasi di Indonesia akan memberikan efisiensi bagi pemerintah, karena tidak perlu menggelontorkan dana beasiswa yang besar untuk mengirimkan mahasiswa Indonesia untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Lalu, kesempatan bagi pelajar Indonesia akan terbuka lebar untuk merasakan pengalaman sekolah di kampus-kampus asing yang memiliki peringkat terbaik di dunia.

​

Masuknya PTA ke Indonesia tentunya menghasilkan dampak postif maupun negatif. Positifnya adalah dengan adanya PTA masuk ke Indonesia akan mendorong pembangunan infrastruktur pendidikan perguruan tinggi dalam negeri. Kemudian juga memberikan kesempatan bagi Universitas di Indonesia untuk bertukar pikiran dengan Universitas Asing.

​

Namun dibalik positif didirikannya PTA di Indonesia, tentunya ada dampak negatif serta beberapa hal yang perlu dipertimbangkan lagi oleh pemerintah. Mulai dari dampak negatifnya, Indonesia memiliki lebih dari 200 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang mana akreditasi seluruh Universitas masih belum setara. Dengan adanya PTA tidak menutup kemungkinan bahwa perguruan tinggi Indonesia menengah kebawah justru akan semakin rendah. Karena mahasiswa yang merasa mampu dari segi finansial tentunya akan lebih memilih masuk ke dalam jurusan perkuliahan yang ada pada perguruan asing.

​

Berbicara kualitas pendidikan di Indonesia saja masih sangat memperihatinkan. Perguruan Tinggi Asing selalu didominasi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi atas, atau yang benar-benar pintar saja yang bisa ikut merasakan bangku pendidikan disana. Lalu bagaimana dengan masyarakat menengah kebawah yang justru lebih memerlukan pendidikan lebih agar setara dengan kemampuan standar mahasiswa Indonesia yang layak bersaing di dunia global ini?

​

Di Indonesia saja, masih banyak lulusan perguruan tinggi yang masih kesulitan dalam mencari pekerjaan meskipun fresh graduate. Lalu siapa yang disalahkan? Pendidik atau yang dididik? Untuk hal ini, Indonesia masih perlu pembenahan dalam sistem mengajar. Jika memang pemerintah ingin menyetarakan kondisi pendidikan dalam negeri dengan luar negeri, maka perlu dikaji ulang kebijakan ataupun kurikulum yang lebih global. Namun jangan lupa pula bahwa tenaga pendidik disini sangat penting, karena kecerdasan dari pola pikir pengajar akan berpengaruh pada siapa yang diajar.

​

Jika memang Perguruan Tinggi  Asing akan masuk di Indonesia, bukan menjadi masalah, asal setarakan dulu elemen Sumber Daya Manusia minimal 50 persen agar bisa bersaing dengan mahasiswa luar negeri. Perbedaan budaya dalam negeri dan luar negeri pun juga sudah berbeda. Untuk itu, penguatan budaya juga harus ditingkatkan ekstra mengingat saat ini banyak sekali budaya luar yang masuk ke dalam negeri tanpa mengalami penyaringan.

​

Jika pendidikan di Indonesia sudah layak saing, pemerintah tetap harus memperhatikan bagaimana regulasi untuk Universitas asing yang masuk ke Indonesia dengan pengkajian yang mendalam dari segi manfaat dan kekurangan bagi universitas yang ada di Indonesia.

Copyright @2018 bit.ly/tentangwanitaid

bottom of page